Salah Dua Keajaiban di Lereng Selatan Semeru

Pagi-pagi sekali saya merapikan diri dan bergegas menuju kosan Nopal di daerah Sumbersari dekat kampus UIN Malik Ibrahim, setelah semalamnya menginap di Kosan Ojik di daerah UMM. Keduanya merupakan teman baru yang merelakan kamar kos nya untuk di singgahi.

Jalanan pagi itu sudah lumayan ramai juga dengan genangan-genangan akibat hujan semalam masih belum mengering. Diatas motor, saya bersama bang Syarief, teman dari Lombok yang sudah 4 bulan ini memantapkan dirinya untuk mendalami ilmu agama di Jombang, Jawa Timur. Dijalan rasanya kantuk masih ingin berkencan dengan saya, maklum, dari kemarin sore sampe malam kami menghabiskan waktu di Batu, lalu sempat nongkrong di kedai Ngopa-ngopi hingga larut dan sesaimpainya di Kos Ojik saya masih harus menyelesaikan tugas yang harus di surelkan saat itu juga, diatas jam 2 dini hari saya baru bisa memejamkan mata, sementara yang lain juga tidur larut karena terlalu asik mengobrol.

Selesai bersiap-siap dari kosan Nopal, hanya saya dan bang syarief yang akan berangkat ke Lumajang. Disana Kami akan mengunjungi 2 destinasi yang sedang naik daun di jejaring sosial media instagram, yaitu Air Terjun Tumpak Sewu dan Air Terjun Kapas Biru.

Lanjutkan membaca Salah Dua Keajaiban di Lereng Selatan Semeru

Bukit Pal dan Nostalgia Kecil

“Kayanya besok saya pulang deh”

Dari ucapan saya saat itu, baru 4 hari setelahnya saya benar-benar pulang. Ada beberapa alasan sampai kepulangan saya harus ter-undur, menunggu kapal yang jadwalnya hanya 2 kali dalam seminggu, uang di ATM yang masih mengambang dan yang paling mendasar adalah saya masih betah.

Diawali pagi hari membantu bang Syarief dan Ama’ (sebutan Bapak untuk orang Lombok) mengantar pesanan kusen, dilanjut mencari sarapan, Nasi Corneto. Bukan menyebut merek, saya menyebut demikian karena memang orang sana ketika membungkus nasi akan membentuk cone, seperti es krim, isinya nasi dengan lauk serundeng, mie, telur/ayam suwir, sambal, dan kering tempe. Mungkin jika di Semarang setara dengan Nasi Rames.

Rasa lelah sepulang dari Rinjani masih sedikit terasa. Wajah saya juga masih terasa perih akibat terbakar sinar matahari langsung. Namun sang tuan rumah selalu menanyakan hal yang sama setiap pagi,

“hari ini mau kemana?”

Saat itu saya mengusulkan untuk berjalan-jalan di tempat-tempat yang dekat saja, toh di Lombok sepertinya jauh-dekat semuanya bagus.

Lanjutkan membaca Bukit Pal dan Nostalgia Kecil

Sebuah Cerita Kesunyian Jalur Torean (Rinjani: Bagian 4)

Sunyi seakan kehilangan dirinya di tengah kota, ia punah terbunuh oleh keramaian, tercekik oleh hingar-bingar. Ia dirawat oleh pelosok desa-desa. Ah, namanya juga manusia, di tengah keramaian namun perasaannya masih saja sepi.

Ojan dan Ahyar, Jalur Torean – Rinjani

14 Agustus 2017 : 10.33 WITA
(Segara Anak – Rinjani)

Peralatan-peralatan sudah dimasukkan ke dalam masing-masing carrier kami, setelah sebelumnya kami sarapan sembari menikmati keindahan Segara Anak sedari pagi.

Kami sudah bersepakat untuk turun melalui jalur Torean, di mana jalur tersebut bukan termasuk jalur resmi seperti Sembalun dan Senaru. Beruntungnya ada seorang porter yang berbaik hati mempersilakan kami untuk bergabung ( mengekor ) bersama rombongan yang ia bawa. Maklum, di antara kami ber-4 belum ada yang pernah melewati jalur ini, pun bang Syarief yang sudah 10 kali naik-turun Rinjani.

Lanjutkan membaca Sebuah Cerita Kesunyian Jalur Torean (Rinjani: Bagian 4)

Menjadi Copet di dalam Bus Menuju Denpasar

Ada sebuah gelas kosong yang telah siap untuk diisi kembali. Menemukan hal baru, begitupun orang dan cerita yang juga baru. Lalu dari setiap kata disusun menjadi kalimat yang akan memenuhi gelas-gelas kosong itu.

View dari atas kapal – Pelabuhan Lembar, Lombok

Sore itu di dalam bus Damri tujuan Terminal Purbaya Surabaya, tengah duduk di samping saya, sebut saja namanya Anwar. Saya lupa nama pastinya. Saya panggil dia Pak Anwar sebab kulit wajahnya sudah keriput dan rambutnya mulai ditumbuhi uban yang disisir rapi. Saya tebak umurnya tak jauh dari kisaran 50 tahun. Dia adalah orang asing yang baru saya kenal saat senasib tertinggal keberangkatan kapal tujuan Lombok dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Dikarenakan kapal berangkat 1 jam lebih awal dari waktu yang ditetapkan tanpa adanya pemberitahuan. Pria asal Kediri ini sempat menawari saya untuk menginap di rumahnya sembari menunggu keberangkatan kapal selanjutnya 3 hari lagi. Namun saya pikir itu terlalu lama dan merepotkan, karena waktu libur saya yang semakin berkurang.

Lanjutkan membaca Menjadi Copet di dalam Bus Menuju Denpasar

Finding Peacefulness in Segara Anak (Rinjani: Bagian 3)

Setiap pejalan punya alasannya sendiri untuk pergi berkelana meninggalkan kenyamanan rumah ataupun kehangatan keluarga. Salah satunya untuk mencari kedamaian.

Gunung Barujari ditengah Segara Anak

13 Agustus 2017 : 14.03 WITA
(Segara Anak, Rinjani)

Suara desiran air yang tenang menyambut kedatangan kami, setelah 4 jam perjalanan kami menuruni trek bebatuan curam.

Pemandangan menakjubkan kini hadir di depan mata. Hamparan danau luas dengan air jernih. Sementara gunung Barujari nampak di kejauhan, berdiri di tengah dengan angkuhnya membuat mata seakan enggan berpaling.

“Negri saya benar-benar indah”

Lanjutkan membaca Finding Peacefulness in Segara Anak (Rinjani: Bagian 3)

Bersambang pada Keelokan Atap Tanah Sasak (Rinjani: Bagian 2)

Cantik dan tinggi, selalu saja menjadi tolak ukur laki-laki dalam mencari pasangannya. Namun saya tak sedang ingin membahas hal itu. Saya juga tak sedang ingin membahas tentang banyaknya keikhlasan yang tertumpah akibat hasil yang tak sesuai barometer buatan.


12 Agustus 2017 : 09.35 WITA
(Sembalun, Lombok Timur)

Langit pagi itu sangat cerah, menjadi latar belakang Rinjani dengan sangat apik.

Seusai melakukan registrasi dan perijinan di basecamp Sembalun, masih dengan bantuan Pak Udin, kami diantar menggunakan pick up menuju gerbang pendakian.

Lanjutkan membaca Bersambang pada Keelokan Atap Tanah Sasak (Rinjani: Bagian 2)

Sembalun: Kesederhanaan untuk Sebuah Kehangatan (Rinjani: Bagian 1)

Bersyukur Tuhan tidak hanya menciptakan dingin namun juga memberikan hangat.

Kutipan di atas saya lupa dapat entah dari mana. Yang pasti saya sangat sependapat sepenuh hati.

Sembalun

Semua hal yang terjadi di luar rencana, memang akan selalu mudah diingat atau bahkan selalu terkenang, entah itu suka ataupun sedih.

Saya, Ojan, Ahyar dan Bang Syarief – sehari menjadi anak gaul Sembalun

Lanjutkan membaca Sembalun: Kesederhanaan untuk Sebuah Kehangatan (Rinjani: Bagian 1)