21 Jam Mengarungi Lautan Menuju Lombok bersama KMP Legundi

KMP Legundi

Sebagai seorang mahasiswa perantauan yang sangat sibuk (red: sibuk memikirkan deadline tugas dan sisa uang bulanan bisa untuk makan apa besok) traveling merupakan salah satu hal yang cukup spesial bagi saya. Saya harus cermat memilih waktu libur dan tentu saja harus sabar mengumpulkan uang. Selain dari menyisihkan jatah bulanan, juga menggunakan uang dari hasil keringat sendiri yang tak seberapa. Dengan budget pas-pas-an menuntut saya untuk berpikir bagaimana agar bisa melakukan perjalanan dengan se-ekonomis mungkin untuk sampai tempat tujuan.

Akhir Januari 2017 yang lalu, Saya memasuki Kapal Motor Penumpang (KMP) Legundi milik PT. ASDP Indonesia Ferry di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan tujuan Pelabuhan Lembar, Lombok setelah sebelumnya berangkat dari Semarang menggunakan kereta api, lalu makan siang rujak cingur makanan khas Surabaya di dekat Stasiun Pasar Turi kemudian dilanjut membeli tiket di kantor ASDP Indonesia Ferry di Jl. Kalimas, Tanjung Perak.

Terminal penumpang Gapura Surya Nusantara (GSN) menjadi pintu masuk saya sebelum menaiki kapal. Begitu memasuki gedung, udara sejuk dari pendingin ruangan menyambut saya yang sebelumnya berpanas-panasan dengan udara siang Surabaya. Bentuk bangunan yang modern serta interior yang apik membuat terminal penumpang ini tak ubahnya seperti bandara-bandara kelas internasional. Seluruh penumpang yang akan menaiki kapal terlebih dahulu diharuskan melewati mesin X-ray, dilanjutkan menuju counter check-in kapal sesuai dengan tujuan masing-masing. Selepas check-in, penumpang bisa bersantai jika masih ada jeda waktu hingga keberangkatan kapal. Dengan eskalator, penumpang bisa pergi ke lantai 3 terminal dimana terdapat food court yang menjajakan ragam makanan. Terdapat pula garbarata untuk masuk kedalam kapal, layaknya masuk kedalam pesawat. Keren.

Lanjutkan membaca 21 Jam Mengarungi Lautan Menuju Lombok bersama KMP Legundi

Iklan

Menjumpai Hening di Masjid Menara Kampung Melayu Semarang

1

Jumat sore itu, udara panas kota Semarang rela terusir oleh kawanan awan hitam di cakarawala. Suasana riuh aktivitas sepulang kerja di sepanjang Jalan Layur, ikut terdesak untuk pergi ketika memasuki sebuah masjid di salah satu sudut jalannya.

Masjid Layur atau yang masyarakat sekitar menyebutnya Masjid Menara Kampung Melayu yang memiliki alamat di Jl. Layur no 33 Kampung Melayu, Semarang Utara itu terlihat sepi dan damai, ketika hanya dijumpai seorang pemuda berkaos hitam tengah terduduk diantara dua sujud dan sebut saja Pak Hisyam, yang merupakan marbot masjid dengan atap berbentuk tajuk bersusun tiga ini. Masjid yang didirikan pada tahun 1802 Masehi ini masih terlihat kokoh dan terawat, menurutnya hanya terdapat sedikit perubahan yang dilakukan oleh pihak yayasan masjid; penggantian atap ijuk menjadi genteng, menaikkan pondasi lantai dan penambahan ruang pengelola. Lanjutkan membaca Menjumpai Hening di Masjid Menara Kampung Melayu Semarang

Berburu di Pantai Impos Medana

Lautan memiliki animo tersendiri untuk dicintai. Entah pelengkap senja yang diagung-agungkan para penyair, atau ombaknya yang akan kembali menepi meski terus menghantam bebatuan atau bahkan cerita-cerita imajinasi tentang sesuatu di balik horizon diujung sana. Seperti halnya mencintai sebuah negeri, cinta tanah dan airnya. Terlahir di negeri dengan 70% bagiannya adalah air, bagaimana mungkin saya tak mencintai lautnya. Saya hanya sering merindukannya, sebuah penenang pelepas rasa lelah.

Namun, saya patut bersyukur memiliki tempat tinggal jauh dari pantai. Ketika lama tak bersua dengannya maka rasa rindu akan tumbuh dengan bebasnya. Agar ketika kembali bertemu dengan lautan rasa bahagia itu menjadi lebih dari sekadar rasa bahagia. Juga merayakan pertemuan, menghanyutkan kerinduan bersama deburan riak.

Sudah satu minggu lebih saya berada di Lombok tapi belum juga merasakan jernih dan asin air lautnya. Di sebuah daerah yang tersohor akan keindahan alam serta pantai disalah satunya, saya seakan menjadi orang yang tak ingin menyesal layaknya memakan habis nasi goreng tapi lupa ikut memakan kerupuk yang masih utuh di sampingnya.

Saat hendak ke Lombok, selain menggapai puncak Rinjani, saya juga
meniatkan diri untuk berziarah ke pantai, melakukan snorkeling di lautan lepas. Kesempatan itu akhirnya datang ketika baru bangun dari tidur, secara mendadak rekan bang Syarief menjemput dan menawarkan diri untuk mengajak ke sebuah pantai di Lombok Utara mereka adalah bang Sulhy dan bang Sul.

Lanjutkan membaca Berburu di Pantai Impos Medana

Mengenal Sejarah Kota Pekalongan melalui Jelajah Heritage Poros Pulau Jawa

Kantor Pos Pekalongan di Kawasan Budaya Jatayu

Sejarah layaknya kacamata masa lalu yang menjadi sebuah pijakan dan langkah setiap manusia dimasa yang akan datang. Sejarah seakan tak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Ia dapat memberikan nilai ataupun norma yang dapat dijadikan pedoman bagi kehidupan sehari-hari. Sejarah juga mengajarkan hal-hal yang sangat penting, terutama mengenai; keberhasilan dan kegagalan dari para pemimpin kita dahulu, sistem perekonomian yang pernah ada, bentuk-bentuk pemerintahan, serta hal-hal penting lainnya dalam kehidupan manusia sepanjang sejarah. Dari sejarah, kita dapat pula mempelajari apa saja yang mempengaruhi kemajuan dan jatuhnya sebuah negara ataupun sebuah peradaban. Kita juga dapat mempelajari latar belakang alasan kegiatan politik, pengaruh dari filsafat sosial, serta sudut pandang budaya dan teknologi yang bermacam-macam, dari zaman ke zaman, tak terkecuali di Kota Pekalongan.

Salah satu kota di Provinsi Jawa Tengah, Pekalongan banyak memiliki situs sejarah peninggalan VOC maupun Hindia Belanda yang lambat laun mulai tergusur oleh sebuah kepentingan yang mengatasnamakan ekonomi.

Kota yang didaulat sebagai Kota Kreatif Dunia oleh UNESCO pada tahun 2014 ini, kaya akan peninggalan sejarah. Mulai dari budaya, sampai dengan bangunan-bangunan kuno atau karya arsitektur lainnya, yang dibangun pada masa penjajahan dulu. Sebagian besar dari peninggalan sejarah itu, yang dikenal dengan istilah ‘heritage’, bisa ditemui pada kawasan Jetayu, Kota Pekalongan.

Lanjutkan membaca Mengenal Sejarah Kota Pekalongan melalui Jelajah Heritage Poros Pulau Jawa

Dinginnya Dekapan kabut Candi Cetho hingga Kehangatan Secangkir Kopi Bali

Hujan mulai meredakan dirinya, berganti menjadi rintikan gerimis kecil yang membuat malam terasa makin dingin. Bangku-bangku terbalik tertata rapi di depan ruko, tempat makan dan beberapa toko mungkin saja tutup lebih awal sebab hujan yang turun sejak siang atau memang waktu yang sudah menunjukkan saatnya istirahat.

Di tengah dinginnya malam diluar sana, saya dan Tanjung tengah duduk di Joxs Street Cafe. Kami sengaja memilih tempat nongkrong ini karena ada seorang teman yang bekerja paruh waktu sebagai barista di kedai ini.

Di depan kami telah tersaji minuman yang sudah kami pesan. Salah satu pilihan saya adalah Kopi Bali Kintamani yang berasal dari dataran tinggi Kintamani di pulau Bali. Konon kopi ini mempunyai kualitas tinggi dikarenakan tumbuh di tempat yang dingin dan kering. Kopi asal pulau Dewata ini termasuk kopi asli Indonesia yang memiliki rasa dan aroma berbeda. Masyarakat di Kintamani sendiri sangat menjaga tradisi budaya lokal. Kelebihan lain dari kopi Kintamani ini yaitu dari segi history serta kebiasaan budaya lokal yang membuat tanaman kopi ini mempunyai mutu dengan kualitas tinggi. Kopi ini dikenal juga memiliki reputasi dengan nama “origin coffee ” atau kopi asli dari Indonesia. Kopi Bali dikatakan sebagai kopi Kintamani yaitu satu diantara tipe kopi arabika yang dikenal mempunyai rasa yang manis serta lembut. Kopi Arabika Kintamani ini mempunyai rasa yang tidak terlalu sepat juga tidak terlalu pahit.

Kopi Bali Kintamani yang saya pesan disajikan menggunakan teknik pour
over dengan menggunakan alat V60. Metode pour over merupakan metode dalam penyeduhan kopi yang dikenal sudah sejak lama. Penyeduhan kopi menggunakan alat dengan metode pour over cenderung mempunyai karakter kopi yang dapat memberikan
kepuasan bagi penikmatnya, seperti aroma lebih kuat, hasil kopi yang bersih dan menonjolkan karakter-karakter tertentu.

Lanjutkan membaca Dinginnya Dekapan kabut Candi Cetho hingga Kehangatan Secangkir Kopi Bali

Paralayang Seusai Hujan

Hujan sejak sore belum juga nemunjukkan tanda-tanda akan usai. Menikmati segelas kopi hangat untuk sekadar mengusir dingin yang meringkuk nyaman adalah momen yang paling saya senangi saat berada di daerah pegunungan. Entah itu sebuah pendakian atau hanya berkunjung untuk melepas penat. Remang-remang lampu saat itu pula menambah nyaman dan rasa tak ingin beranjak, berada persis di depan mushola, sebuah warung kopi di kawasan wisata Taman Langit Gunung Banyak, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Paralayang di Kota Batu.

Kota yang dulunya termasuk wilayah Kabupten Malang ini memiliki potensi keindahan alam yang luar biasa, tak pelik banyak ditemui barisan bus-bus besar membawa rombongan untuk kunjungan wisata. Terletak di dataran tinggi di lereng pegunungan dengan ketinggian 700 hingga 1.700 meter di atas permukaan laut, sehingga udara dingin nan sejuk menjadi hal wajib disini, tak terkecuali Paralayang di Gunung Banyak.

Lanjutkan membaca Paralayang Seusai Hujan

Salah Dua Keajaiban di Lereng Selatan Semeru

Pagi-pagi sekali saya merapikan diri dan bergegas menuju kosan Nopal di daerah Sumbersari dekat kampus UIN Malik Ibrahim, setelah semalamnya menginap di Kosan Ojik di daerah UMM. Keduanya merupakan teman baru yang merelakan kamar kos nya untuk di singgahi.

Jalanan pagi itu sudah lumayan ramai juga dengan genangan-genangan akibat hujan semalam masih belum mengering. Diatas motor, saya bersama bang Syarief, teman dari Lombok yang sudah 4 bulan ini memantapkan dirinya untuk mendalami ilmu agama di Jombang, Jawa Timur. Dijalan rasanya kantuk masih ingin berkencan dengan saya, maklum, dari kemarin sore sampe malam kami menghabiskan waktu di Batu, lalu sempat nongkrong di kedai Ngopa-ngopi hingga larut dan sesaimpainya di Kos Ojik saya masih harus menyelesaikan tugas yang harus di surelkan saat itu juga, diatas jam 2 dini hari saya baru bisa memejamkan mata, sementara yang lain juga tidur larut karena terlalu asik mengobrol.

Selesai bersiap-siap dari kosan Nopal, hanya saya dan bang syarief yang akan berangkat ke Lumajang. Disana Kami akan mengunjungi 2 destinasi yang sedang naik daun di jejaring sosial media instagram, yaitu Air Terjun Tumpak Sewu dan Air Terjun Kapas Biru.

Lanjutkan membaca Salah Dua Keajaiban di Lereng Selatan Semeru